Konsisten Goes To School, Rumkit Bhayangkara Beri Pelatihan BHD Dan Sosialisasi Pentingnya MCU Kepada Pelajar
PALANGKA RAYA – Sedikitnya puluhan pelajar SMA Karsa Mulya dan SMK 1 Kota Palangka Raya mengikuti Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Sosialisasi pentingnya Medical Check Up (MCU) sejak dini yang diberikan oleh Rumah Sakit (Rumkit) Bhayangkara Tingkat III Palangka Raya Polda Kalteng, Selasa (21/1/2025) pagi.
Dalam kegiatan yang digelar di aula sekolah setempat, dipimpin oleh Koordinator Lapangan atau Kepala Penangung Jawab (PJ) Unit Humas & Marketing Pengatur Regina Maghfirati, A.Md.Kep beserta Dokter Umum dr. Nita Marta Hardianty dan anggota.
Pengatur Regina mewakili Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Bhayangkara Tingkat III Palangka Raya AKBP dr. Anton Sudarto mengatakan, pelatihan dasar yang diberikan adalah untuk memberikan pengetahuan dan mempertajam kemampuan para siswa-siswi.
Meskipun secara dasar mereka sudah memiliki bekal penanganan namun di pelatihan ini lebih fokus diajarkan mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD).
“Hal ini sebagai upaya pertolongan pertama ketika menemui atau menjumpai kegawatdaruratan seperti orang sesak nafas, tersedak, jantung dan orang tenggelam,” kata Regina.
Rere sapaan akrabnya, berharap para peserta sudah memiliki kesigapan dan keahlian penyelamatan.
Keahlian ini bisa bermanfaat tidak hanya di sekolah tetapi di lingkungan masyarakat atau dimanapun berada.
“Para peserta juga bisa menularkannya kepada generasi selanjutnya,” ujarnya.
Salah satu siswa, Devi mengatakan, dengan adanya pelatihan seperti ini bisa memberikan pengetahuan dan wawasan
Sebab, biasanya pelatihan hanya sebatas pengetahuan dasar pertolongan saja. Tetapi dengan pelatihan menjadi lebih tahu secara detail tentang pertolongan pertama ketika menjumpai orang sesak nafas, jantung, tersedak maupun tenggelam.
Sementara, dr. Nita Marta Hardianty menjelaskan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (PHD) sangat penting karena mengajarkan individu bagaimana menangani keadaan darurat medis kritis dengan benar, seperti serangan jantung dan penyumbatan saluran pernafasan.
“Tanpa perhatian segera dan tepat, korban serangan jantung dan penyumbatan saluran napas bisa kehilangan nyawa,” kata dr. Wikanti.
Bantuan hidup dasar mengacu pada tingkat perawatan medis yang digunakan oleh profesional kesehatan untuk korban dengan gangguan saluran nafas, gangguan pernapasan, dan keadaan darurat kardiopulmoner.
Keterampilan ini memerlukan pengetahuan tentang CPR (resusitasi jantung paru), keterampilan AED (defibrilator otomatis), dan menghilangkan penyumbatan saluran napas benda asing.
Kegiatan diakhiri dengan sosialisasi tentang pentingnya melakukan Medical Check Up secara rutin sejak dini. (Har/sam)